Go to content Go to navigation Go to search

Waria Unite!
14 Maret 2010

SMASH! Layaknya halilintar yang menggeledek, bola volly itu mendesing-desing melewati net, menghantam tanah yang sudah diplester tembok, kemudian memantul dan ditangkap salah seorang penonton. Hampir semua orang bersorak-sorai waktu salah seorang pemain menjemput bola volly. Sebelum permainan dimulai lagi, pemain volly itu mengucapkan terimakasih menggunakan kedipan.



Saya tertawa di dekat warung rujak manis, membayangkan bagaimana lelaki yang diberi tanda kasih (kedipan) buluk kuduknya mencucuk-cucuk seperti tajamnya ujung alang-alang makanan sapi. Saya merinding! Hiiii, membayangkan diberi kerlipan oleh seorang waria yang pahanya kelihatan dekil.



Di Malang, volly waria, rutin diadakan di samping stadion Gajayana. Mereka jauh dari image cantik, macam waria Thailand. Biar begitu, gaya mereka gak ada matinya. Biar norak, percaya diri mereka super duper! Saya? Kalah deh.



Nonton kumpulan waria ganjen olahraga sekaligus show of force itu, membuat saya keingetan sama Mbak Rere, salah seorang waria (tentunya) yang menjadi langganan warung nasi sahabat saya. Seorang banci yang diceritakan seringkali disuiti lelaki hidung belang dari belakang dan depan. Seorang banci yang dicintai pol-polan sama seorang lelaki dari negeri carok. Seorang banci yang ternyata menyesalkan sikap sekumpulan banci buas, yang suka mangkal di kawasan minim cahaya. Seorang banci yang hingga dipertemuan terakhir dengan sahabat saya, tetap mengatakan bahwa jalur hidupnya adalah jalur hidup yang salah. Seorang banci langka yang memilih mengikuti nuraninya namun tetap menganggap bahwa tindakannya salah kaprah.



“Ah, andai Rere ngejalanin kodrat sebagai lelaki, pasti banyak yang naksir,” sahabat saya mendesah.



“Ya! Kalaupun gak ada seenggaknya ada satu yang naksir!”

Dia tahu apa yang saya maksudkan, karenanya dia pun merajuk, mengajukan pembelaan. “Abis badannya tinggi! Udah gitu cakep.”



Dasar cewek! Dimana-mana sama! Saya gelengkan kepala. Dan seratusribu pembelaan berhamburan lagi dari mulutnya.



Hhh, Rere-Rere. Mengapa di dunia ini ada manusia sesedih Dikau. O berdukanya. O mengharukannya. O kepak sayap kelelawar, O rendang kucing, O sembelit. O Sutardji! O salutnya diriku atas pengakuan kesalahan itu. Kau begitu membanggakan! Kau kau kau begitu langka di dunia!



Seakan anoa yang dilindungi pro fauna, pengakuan Rere nggak ada dua. Penyangkalan tidak ada dalam kamus kebanciannya. Ini kontras dengan yang dilakukan banci bergelar hajjah, yang dipanggil bunda oleh masyarakat. Banci yang ketika akan melakukan operasi kelamin, melakukan pembenaran atas perbuatannya dengan mensyiarkan di media massa bahwa ia sempat berdoa agar Allah memberi petunjuk padanya. “Seandainya aku salah maka akan terjadi sesuatu yang buruk pada operasiku. Dan seandainya aku benar, maka Allah akan membiarkan operasi kelaminku berlangsung baik.”



Gampang ditebak. Operasi berlangsung lancar. Tak ada pohon tumbang. Tak ada pusaran angin yang mengkanvaskan pesawat terbang. Tak ada kejadian mengerikan yang dialami organ genitalnya.



Setelah mengganti kelamin, waria tersebut melangsungkan pernikahan dengan lelaki yang mau menerima sejarah hidup dia apa adanya. Hingga kini tak ada yang terjadi dengan alat kelaminnya, bahkan melalui talkshow yang ia pandu, rezeki waria itu mengucur deras melebihi kucuran riski ustad-ustad yang pernah berusaha meluruskannya. Karenanya, hingga saat ini waria bernama Dorce itu –nampaknya-- masih menganggap bahwa Allah menyetujui tindakan memotong lingga dan menggantinya dengan yoni buatan.



Uh, saya sebenarnya tidak suka menulis dengan gaya tunjuk menunjuk, salah menyalahkan macam gini, tapi di dunia ini, melakukan pembenaran, adalah sesuatu yang paling membuat saya sebal. Saya paling sebal dengan pembenaran yang mengatasnamakan Tuhan. Pembenaran --yang seandainya dianggap kebenaran mutlak-- bisa digunakan tukang sodom untuk membenarkan tindakannya:



“Tuhan, kalo gue salah, pas gue nubles pantat anak orang bule ini, tolong Lu buat kelamin gua peluh! Atau Lu buat pantat anak orang bule itu tiba-tiba punya gigi supaya pas gue tubles, nyaem... kelamin gue putus digigit pantat itu anak! Amin!”



Pembenaran macam itu, bisa juga digunakan oleh pemabuk, pezinah, tukang riba, dan koruptor untuk membenarkan tindakannya. Di sini, standar kebenaran tengah diubah dalam usaha pembenaran.



Standar kebenaran di dalam Islam yang semula berawal dari Al Quran dan Assunnah, berusaha dirubah menjadi standar kebenaran ketika seseorang berhasil melakukan sebuah tindakan (menyodom, mencuri, korupsi, mabok, dsb).



Halah! Melakukan pembenaran tindakan yang pada awalnya sudah tidak benar adalah suatu penambahan kesalahan. Kesalahan yang bahkan mungkin tingkatan dosanya bisa jadi melebihi kesalahan ketika seseorang melakukan tindak kejahatan.



Inilah yang membedakan Dorce dengan Rere. Rere memahami dan mengakui kalau apa yang dilakukannya, menjadi banci itu salah. Ia mengetahui kalau dirinya adalah lelaki, tapi dia belum bisa menjalaninya karena ada sesuatu yang bicara. Perasaannya.



Rere mengakui kesalahannya, ia tidak berusaha melipat yang putih menjadi hitam, dan yang hitam menjadi putih. Ia menjalani apa adanya, bahwa dirinya salah tetapi dia belum bisa meninggalkan kesalahannya, --dan sekali lagi--, ini berbeda dengan apa yang dilakukan para banci atau homoseks yang hatinya gosong.



Saya bersimpati dengan orang-orang yang didakwa oleh nuraninya, kemudian mau mengakui kesalahannya karena mereka memiliki kedekatan personal dengan saya. Di samping mendoakan saya sendiri, Dorce, saya juga doakan Rere agar sebelum matinya menjalani kehidupan yang benar (yang tentu, sudah pasti baik).



Saya doakan semua berproses menjadi lebih baik karena kita semua memang harus memahami, bahwa alam memberikan waktu kepada manusia untuk melakukan perbaikan. Manusia yang sama-sama berdosa harus sabar, diiringi usaha meluruskan kemudian diperkuat dengan doa.

Di luar itu semua, dunia tempat tinggal kita sepertinya telah diputarbalikkan oleh pembenaran demi pembenaran. Yang salah, dijustifikasi agar dipandang benar. Yang benar dikucilkan media dan dianggap ketinggalan zaman. Bukankah saat kita melihat demonstrasi menolak pornografi, berbondong-bondong orang membela dan melakukan pembenaran atasnya; ketika homoseksual dan lesbian dilarang keras oleh agama, LSM-LSM menggunakan media massa melakukan pembenaran lainnya mengatas namakan liberalisme agama; ketika orang-orang membolehkan poligami, kaum feminis “Islam” menganggap bahwa poligami adalah tindakan asusila, tak beradab dan memalukan dan sudah tidak up to date lagi, padahal rasul dan sahabat mencontohkannya. Ketika orang-orang membolehkan dan berusaha melegalkan pergantian kelamin, padahal rasulullah saja melarang seorang lelaki menyerupai wanita, apalagi berusaha merubah kodratnya.



Ada apa dengan dunia ini? Kemanakah muslim yang fair di dalam fikirannya. Dimanakah pertanggung jawaban? Dimanakah letak kejujuran? Ah, setidaknya, di tengah-tengah zaman yang kerontang ini, saya yakin kita selalu bersikap fair terhadap diri kita sendiri. Kita selalu fair pada orang lain dan nilai (Islam) yang kita yakini.



Dan ketika sebuah bola volly kembali menghantam tanah, memantul beberapa kali kemudian menggelinding ke arah warung rujak petis, saya membayangkan dari arah timur Istiqlal Jakarta sekumpulan waria turun dari truk berplat N. Mereka membawa spanduk berwarna nyala, dan olalala, yang membawa TOA dan menjadi korlap demonstrasi itu ternyata Rere, seorang waria yang menggalang kawan-kawannya untuk mau tunduk di bawah syariat Islam seperti halnya seorang pezina di masa Rasulullah manakala merindukan surga.



Allah maha besar dan kita maha kecil kawan!



--------------------

Big Foot



Seorang wanita datang kepada Nabi mengatakan:

"Ya Rasul, sucikan aku, sucikan aku"

Nabi bertanya. "Mengapa ya fulanah engkau minta di sucikan?"

Wanita itu mengatakan. "Aku telah berzina dengan laki laki yangkemarin telah di rajam karena berzina, dan akulah si wanitanya."

Nabi berkata. "Adakah saksinya ? Apa buktinya?"

Wanita itu berkata. "Allah dan aku saksinya, dan perutku semakinmembesar."

Nabi berkata. "Pulanglah engkau, hingga anakmu lahir."

Akhirnya wanita itupun pulang. Setelah anaknya lahir, wanita itu datang lagi dan meminta hal yang sama: untuk di sucikan.

Nabi berkata. "Pulanglah, susuilah anakmu selama 2 tahun."

Setelah di susui selama dua tahun, wanita ini kembali datang untukminta di sucikan lagi.

Nabi berkata. "Pulanglah, asuhlah anakmu hingga ia cukup besar."

Beberapa tahun kemudian wanita ini kembali lagi.

Nabi lalu mengambil anak itu, lalu berkata. "Siapa yang akanemnanggung anak dari wanita ini ??"

Lalu seorang sahabat berkenan mengasuhnya.

Nabi bersama sahabat lalu menggali lobang, kemudian merajam wanita ini hingga meninggal.

Seorang sahabat mengejek wanita pezina itu dan mengatakan kejelekannya sebagai pelacur.

Rasul nampak marah mendengar komentar itu dan berkata:

"Jika taubat wanita ini di bagi bagikan kepada seluruh pendudukmadinah, niscaya semua akan kebagian."

Wanita itu telah suci dan mensucikan dirinya.

Dia menghadap Allah dalam keadaan bersih dan berpredikat sebagai orang yang bertaubat.



Kelebaman Manusia
14 Maret 2010



Manusia selalu berubah? Bukankah yang berubah hanyalah perkakas yang digunakan untuk membantu kehidupannya? Bukankah yang berubah hanyalah teknologi? Apa benar hakikat manusia ikut berubah?



Dulu Chandragupta Maurya menggunakan lembing, gada, tombak, panah, dan gajah untuk menguatkan pasukan perang India. Dulu Alexander the Great menerobos Himalaya melalui celah Keiber, membawa pasukan tempur yang persenjataannya tak jauh beda dengan Chandragupta, kecuali kuda. Sekarang persenjataan perang berubah. Manusia membuat senjata pembunuh masal untuk menghancurkan sesamanya. Agent Orange, chemical weapon, nuclear, digunakan untuk mendeportasi manusia dari alam dunia menuju alam baka. Tank, kapal induk dan pesawat supersonik dijadikan andalan untuk membombardir manusia dengan senjata berat. Apakah itu yang mengindikasikan manusia berubah? Bukankah hakikatnya tetap sama? Bukankah dari dulu sampai sekarang, manusia berjuang mati-matian untuk menampakkan eksistensinya dengan mempertahankan diri?



Dulu manusia menggunakan timbangan besi untuk mengakali pembeli (mencuri dengan mengurangi timbangan). Dulu seorang perampok, masuk ke dalam rumah, mencuri koin-koin emas dan gepokan uang milik seorang saudagar, setelah berdandan ala ninja. Sekarang, di era digital abad 21, manusia tidak usah lagi berdandan semacam itu, , atau menggunakan timbangan besi demi mengakali pembeli. Manusia tinggal leyeh-leyeh menghadap monitor computer, sambil menyeruput coffelate, mengetuk-ngetuk tuts keyboard, mengarahkan mouse maka bobol-lah milyaran dolar uang di sebuah bank.



Apakah perbedaan cara mencuri yang mengindikasikan manusia berubah? Bukankah hakikatnya tetap sama? Bukankah dari sejak zaman Qorun sampai zaman Bill Gates, manusia selalu ingin memperkaya diri menggunakan cara yang sah dan tidak sah.



Dulu, manusia di zaman food gathering mengolah daging dengan mengumpulkan atau langsung memamahnya, kemudian, zaman berubah. Manusia membakar makanan terutama daging, menggunakan batu api, atau mungkin menunggu petir untuk membakarnya, atau --yang paling banter-- merebusnya. Sekarang berbeda! Manusia mati-matian memutar otak, demi menemukan cara masak yang bisa membuat kritikus makanan terbang melayang-layang seperti burung layang-layang, atau seperti mendapat kan ledakan mercon sewaktu menikmatinya at the first bite! Manusia mengolah bandeng menggunakan presto (alat masak yang desisannya bisa membuat manusia purba mampret); menyelimuti daging kalkun dengan alumunium foil, memasukannya ke dalam oven, kemudian menunggu dengan khidmat seperti yang biasa dilakukan anak-anak bangsa Amerika, saat mereka merayakan thanksgiving bersama kakek neneknya. Apakah cara mengolah makanan yang mengindikasikan manusia berubah?

Cara manusia mengolah makanan memang berubah, tetapi bukankah hakikat manusia tetap sama? Bukankah dari dulu sampai sekarang, manusia selalu membutuhkan makan dan minum untuk memenuhi kebutuhan asasinya?



Dulu jika manusia haus akan kebutuhan biologisnya, maka manusia membutuhkan pasangan hidupnya. Cara yang ekstrem: menyalurkan kebutuhan biologisnya dengan sesama jenis atau bahkan dengan binatang. Yang konvensional, menyalurkannya dengan pasangan dari jenis yang berbeda (pria dengan wanita).



Sekarang, semenjak munculnya “revolusi seks” seorang lelaki bisa menggunakan boneka angin sedangkan yang wanita bisa memuaskan libidonya menggunakan dildo atau vibrator. Apa cara memenuhi kebutuhan seks lah yang mengindikasikan manusia berubah?



Cara manusia dalam menyalurkan kebutuhan seks sedikit banyaknya memang berubah, tetapi bukankah hakikat manusia tetap sama? Bukankah dari dulu sampai sekarang, manusia tetap berkeinginan menyalurkan kebutuhan biologisnya?



Seorang ulama bernama Taqiyudin an Nabhani pernah membahas hakikat manusia di dalam bukunya yang berjudul Nidzam Islam. Melalui pengamatannya, ia berusaha memetakan --salah satu-- diantara hakikat manusia. Menurutnya dari dulu sampai sekarang hakikat manusia adalah sebagai berikut.



1. Manusia Memiliki Kebutuhan



untuk Menyalurkan Kebutuhan Jasmaninya.

Kebutuhan jasmani adalah kebutuhan yang memang manusia mutlak memerlukan pemenuhannya. Kalau tidak terpenuhi manusia bisa sakit dan jika tidak terpenuhi terus menerus maka manusia bisa keleper-keleper, mati!.



Manusia harus makan dan minum, kalau tidak terpenuhi, manusia bisa mati. Manusia butuh kentut! Kalau tidak kentut, perut manusia bisa kembung, kalau kembung, manusia bisa kejang-kejang, kalau terus menerus kejang, manusia bisa mati.



Konon, seorang Khalifah bernama Harun Al Rasyid pernah kelenger karena nggak bisa kentut. Waktu khalifah kelenger, seorang tabib datang dan bertanya padanya,

“Lebih baik milih harta setinggi gunung tapi tidak bisa kentut atau bisa kentut sepuasnya, tapi tidak memiliki harta setinggi gunung?” dan jawabannya tentu sudah dapat diterka. Harun al Rasyid memilih kentut.



Manusia butuh menghisap oksigen, kalau tidak dipenuhi tentu kalian sudah tahu jawabannya. Saya pernah tenggelam di sebuah danau, jadi, mengenai hal ini, saya mengerti benar betapa berharganya oksigen bagi manusia.



Semua yang saya sebutkan tadi adalah kebutuhan pokok manusia yang mutlak harus terpenuhi, dan ciri lain dari kebutuhan ini, ialah bahwa kebutuhan ini muncul dengan sendirinya dari dalam diri manusia.



2. Manusia memiliki Kebutuhan

untuk Menyalurkan Kebutuhan Nalurinya.



Naluri terbagi menjadi tiga: naluri mensucikan, naluri mempertahankan eksistensi, naluri menyalurkan kebutuhan biologis juga melanjutkan keturunan.



a. Naluri mensucikan



Manusia membutuhkan sesuatu untuk disucikan. Setiap manusia berbeda pandangan dalam mensucikan sesuatu. Bagi seorang Nasrani, Kristuslah yang harus disembah dan disucikan (tentu yang disucikan disini bukan berarti Kristus itu najis lalu harus dibasuh oleh tanah). Bagi seorang Rastafarian seperti Bob Marley, kaisar Ethiophia lah yang patut diagungkan. Bagi seorang Marxis, sosok Lenin dan Marx lah yang senantiasa dijadikan acuan, senantiasa dikhidmat dan pujikan. Bagi seorang yang tidak percaya apapun, bagi orang yang skeptis terhadap aneka macam penyembahan apapun, maka akalnya lah yang dikeramatkan.



Naluri mensucikan ini sangat luas, mencakup pula, hysteria seorang fans Cold Play terhadap Chris Martin, hebohnya seorang ibu rumah tangga terhadap pinggul Inul yang mistis.



b. Naluri mempertahankan eksistensi.



Kita bisa melihat naluri ini dari mulai keinginan anak-anak tanggung untuk minum alkohol atau ngisap lem, kebringasan Holigan sampai penyerangan yang dilakukan oleh militer zionis Israel, juga resistensi anak anak muda Palestina melalui intifada.



c. Naluri menyalurkan kebutuhan biologis juga melanjutkan keturunan.



Naluri ini dimanifestasikan oleh kerinduan seorang lelaki terhadap wanita, seorang homoseks dan lesbi terhadap sesamanya, juga seorang suami terhadap istrinya.



Ketiga hal tersebut adalah naluri yang memiliki ciri, yakni naluri tersebut tidak akan muncul jika tidak ada stimulan. Kemunculannya, dirangsang oleh fakta yang ada diluar diri manusia. Oleh karenanya, jika kebutuhan pokok tidak bisa ditangguhkan maka, naluri bisa ditangguhkan dengan mengalihkannya. Kalau tidak teralihkan manusia hanya akan gelisah ketika menanggungnya.



Menggunakan konsep itu, seseorang yang ketergantungan minuman keras bisa sembuh hanya karena diberi wawasan tentang naluri. Bahwa, keinginan meminum minuman keras datangnya dari luar diri manusia, jika tidak meminumnya seseorang tidak akan mati. Dia hanya akan gelisah. Dan kegelisahan itu bisa disalurkan melalui kegiatan yang produktif seperti membaca buku atau ikut club conversation. Jika seseorang tidak pacaran maka dia tidak akan mati, melainkan akan gelisah dan –sekali lagi-- gelisah bisa disalurkan kepada hal-hal yang lain. Maka, tak heran jika dalam urusan ini, pendeta-pendeta katolik kuat menahan nafsu biologisnya (meski terkadang ada yang nggak kuat), dan itu dikarenakan mereka mengalihkan naluri tersebut, pada kegiatan sosial memberi derma, mengurusi fakir miskin, dan beribadah kepada Tuhannya di altar-altar gereja.



Jika dikaitkan dengan larangan-larangan di dalam Islam, maka kita dapat melihat bahwa Islam tidak melarang sesuatu yang menjadi kebutuhan vital, atau sesuatu yang akan mengakibatkan kematian jika tidak dikonsumsi. Islam hanya melarang implementasi naluri yang menyimpang.

Mudahnya begini, Islam tidak mengekang, taruhlah naluri menyalurkan kebutuhan biologis juga melanjutkan keturunan seperti yang dilakukan oleh biksu-biksu budha, Hindu, atau pendeta-pendeta Katolik. Islam juga tidak mengumbar, atau mempersilahkan manusia yang terikat oleh sistem nilainya, untuk berhubungan dengan apa saja. Misalnya: dengan lubang tikus, paus pembunuh (binatang), atau sesama lelaki dengan lelaki, sesama perempuan dengan perempuan, anal seks, dan lain sebagainya. Islam memperbolehkannya hubungan seks, asalkan hubungan itu sesuai dengan sistem nilai yang ada di dalamnya. Seperti harus nikah dulu dan lain sebagainya.

Yang bisa kita ambil dari penelaahan Taqiyudin ialah, bahwa Islam tidak mengancam hakikat manusia dalam hal, keberadaaan kebutuhan jasmani serta naluri di dalam dirinya. Islam tidak merusak manusia, melainkan menjaga dan menatanya.



Dalam merumuskan hakikat manusia, konsep Taqiyudin –mungkin-- tidak sempurna. Akan tetapi, konsep kebutuhan pokok dan naluri yang ia ketengahkan, diakui atau tidak, memiliki keterkaitan dengan fakta manusia. Apa sebab? Sebabnya Taqiyudin menelaah diri manusia yang tidak pernah berubah sejak dari awal penciptaan hingga abad kepunahannya.



Manusia selalu sama, meski teknologi yang membantu kehidupannya mengalami lompatan-lompatan yang menakjubkan seperti lompatan Neil Armstrong saat menginjakkan kakinya di bulan. Itulah mengapa, banyak orang yang mempercayai bahwa Islam bisa diterapkan lintas zaman, lintas abad, lintas keadaan, dengan dukungan para pembaharu yang disebut mujtahid.

Oke, oke boleh lah, jika –segelintir orang mengatakan—Islam tidak sesuai dengan zaman karena berasal dari masa purba, tapi beranikah jujur, untuk menilai mana yang lebih purba, Islam ataukah Demokrasi yang kemunculannya berawal dari masa Yunani?. Lantas kenapa mereka mengagungkan Demokrasi?



Oke oke, sesuka nyalah mengatakan Islam tidak sesuai dengan manusia saat ini. Tapi lantas, argumentasi macam mana yang bisa dijadikan alasan, bahwa hakikat manusia selalu berubah setiap masa berganti? Apa yang bisa dijadikan alasan, bagi seorang muslim untuk melipat syariat Islam yang berfungsi untuk menghandle zaman?



Jika benar hakikat manusia masa Descartes, berbeda dengan hakikat manusia, sewaktu Liberalisme merasuki benak pemuda, maka bisakah mereka membuktikan kebenaran perubahan hakikatnya?



Bisakah?


 


copas dari divansemesta blog

SIRAH NABI MUHAMMAD SEWAKTU MENEMUI AJALNYA
23 Februari 2010











Betapa mulia dan indahnya akhlak baginda Ya Rasulullah


Mengingatkan kita dalam Kematian


 


Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"."Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,"tutur Fatimah lembut.Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang."Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah,Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.


 


Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. " Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.


 


"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Khabarkan

kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: �Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,

urat-urat lehernya menegang."Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."





Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya

menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.



Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, mendekatkan

telinganya."Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum - peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu." Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii!" - "Umatku, umatku, umatku"


 


Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allaahumma sholli �alaa Muhammad wa�alaihi wasahbihi wasallim.


 


Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Bisakah kita mencintai Rosulullah seperti beliau mencintai kita? Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk mencintai Rosulullah. Cinta memang tidak hanya disipan dalam hati tetapi diekspresikan dengan ucapan dan perbuatan salah satu diantaranya senantiasa bershalawat kepadanya.


 


Bukankah Allah SWT sendiri dan para malaikat memberikan salaw at, sebagai penghormatan, terlebih dahulu sebelum menyuruh kita mengucapkan salawat? Bukankah Allah SWT juga memuji Muhammad Rasulullah SAW sebagai yang berakhlaq agung (la�ala khuluqin adziem), suri tauladan yang baik (uswatun khasanah), cahaya (nur), rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin), dan yang belas kasih dan penyayang (raufur rahim)?


 


 Tetapi tentu, tidak hanya dengan pujian dan salawat saja semestinya, bukti cinta kita kepada Rasulullah SAW. Ada banyak hal yang akan menambah kualitas cinta kita kepada Insan Utama ini, berikut di antaranya: 


 


1. Menjalankan pesan-pesan dan ajaran Rasulullah SAW. 


 Ada banyak pesan-pesan Rasulullah sebagai kecintaan Rasul kep ada umatnya, yang terhimpun dalam berbagai hadis Nabi. Tentu bukti kecintaan kita adalah dengan menjalankan pesan-pesan itu. Apal agi pesan-pesan itu adalah hal-hal yang memang akan menyelamatkan dan membahagiakan kita di dunia dan akhirat. 


 �Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Nabi), maka Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu� (QS 3:31) 


 


2.Merindukan bertemu Rasulullah SAW. 


 Kalau kita mencintai gadis/pria, tentu kita selalu merindukan nya dan ingin bertemu dengannya. Biarpun jauh, penuh rintangan, tentu akan kita lakukan demi kecintaan kita kepadanya. Begitu juga kecintaan kita kepada Rosul. Kita belum pernaj bertemu dengannya, namun kita sudah merasakan nikmat karena mengikuti ajarannya. Alangkah senangnya kita jika suatu saat bertemu dengannya. Tentu, kita akan berupaya sekuat tenaga agar bisa berjumpa dengan Rosul kekasih kita.


 


Suatu ketika salah seorang sahabat Rasul menyatakan cintanya  kepada Rasulullah SAW. Rasul menjawab: �Anta ma�a man ahbabta� (engkau beserta orang yang engkau cintai). 


  


3. Memperbanyak shalawat dan pujian untuk Nabi SAW 


 Bertolak dari firman Allah SWT: 


 Sesungguhnya Allah dan para Malaikat bershalawat kepada Nabi . Wahai orang-orang beriman, bershalawatlah kepadanya dan ucapkanlah salam ..� 


 Maka shalawat Nabi banyak diucapkan dimana-mana, paling tidak dalam shalat-shalat kita. Kemudian para ulama menggubah berbagai macam shalawat dan pujian sebagai ungkapan kecintaan kepada Nabi S AW. Shalawat dan pujian inilah yang banyak dibacakan di bul an maulid ini. 


 


4. Mencintai keluarga (ahlul bait) Nabi SAW 


 Dalam Shahih Muslim, kitab hadis paling valid kedua setelah Bukhari, disebutkan p esan Nabi SAW; 


Aku tinggalkan dua bekal yang berharga (tsaqalain). Pertama adalah Kitabullah, di dalamnya terdapat petunju k dan cahaya. Laksanakanlah Kitabullah itu dan berpega ng teguhlah kepadanya. (Dan berpegang pula) pada Ah lul Baitku. Aku peringatkan kalian tentang ahlul baitku (3x)� 


  


 


Dalam Al-Quran (42:23) disebutkan:  


�Aku tidak meminta upah kepadamu atas seruanku, kecuali kecintaan kepada kerabat (al-Qurba)�. Ketika sahabat bertanya, siapakah Al-Qurba ? Rasulullah menjawab: Ahlil baitku  Siapakah Ahlul Bait Nabi SAW?  


  


5. Menjaga nama baik Nabi SAW dan umatnya. 


 Kalau kita mencintai seseorang tentu kita tidak rela jika ora ng tersebut dicaci atau dijelek-jelekkan. Tetapi yang lebih tinggi lagi, kita berusaha menjaga nama baik dengan menjadi t eladan yang baik, sehingga kita ikut membawa nama baik orang yang kita cintai.


 


 Begitu juga kita, tentu harus membela Nabi SAW, jika ada orang yang mencela Beliau. Namun ada yang lebih tinggi, yaitu menunjukkan kepada dunia bahwa umat Muhammad adalah umat yang mulia, berwibawa dan terhormat. Kalaupun tidak seperti umat Islam terdahulu, minimal tidak menjadi umat yang membawa nama buruk Nabi kita apalagi jika memalukan  nama Beliau.


 


 Kita tahu Rasulullah SAW adalah orang yang sangat cinta dan concern dengan umatnya, sehingga digambarkan Allah SWT:


 


 �Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum k alian sendiri. Ia merasakan beratnya penderitaan kalian, sangat mendambakan (keimanan dan keselamatan) kalian, dan amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang beriman� (QS 9:128)


 


 Begitu cintanya Rasul terhadap umatnya sehingga konon diantara ucapan terakhir bel iau adalah �umatku... umatku..�. Entah bagaimana wajah kita jika ketemu Rasulullah, dan melaporkan �Ya Rasulullah, kini umatmu sangat banyak, nomor 2 di dunia, lebih dari 800 juta. Ne gara terbesar umatmu adalah Indonesia, lebih dari 180 juta Muslim... Hanya saja, maafkan ya Rasulullah, bangsa ini banyak yang miskin, bodoh, tidak tertib,  dan termasuk paling korup di dunia.....�. Entah baga imana pula, perasaan Rasulullah Mulia mendengar ini.... 


  


Khatimah 


 


 Di bulan Maulid yang mulia ini, marilah kita perdalam kecintaan kita kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu Alaihi Wa aalihi wa sal am. Minimal dengan mendendangkan lagu shalawat di rumah-rumah kita, bukan hanya musik-musik dangdut atau Peterpan. Berikut shalawat yang dulu sering kami senandungkan di langgar-langgar (di Jawa) sebagai puji-pujian. Seiring gerakan modernisme, puji-pujian mulai jarang terdengar... 


Allahumma shali wa salim �alaa sayidina  wa maulana Muhammadin. Adada maa bi �ilmillahi shalatan daimatan bi dawamim mulkillahi...   


 


(Ya Allah sampaikan salawat dan salam untuk junjungan kami Muhammad  (dan keluarganya), shalawat sebanyak ilmu Allah, selamanya dengan keabadian kerajaan Allah.) 


 


 Mudah-mudahan dengan pernyataan cinta kita kepada Rasulullah  SAW ini. Rasulullah menyahut : �Engkau beserta orang yang engkau cintai�.


Amin…………….