Go to content Go to navigation Go to search

Gaul, Syar’i, dan Mabda’i
14 Agustus 2010

Eh, ikut gaul emang asyik, lho. Coz lewat pergaulan banyak informasi yang kita dapetin. Malah kita juga bisa update informasi yang kita punya. Dari perkembangan teknologi ampe gaya hidup yang lagi trendi. Dari sekadar info selebritis hingga tempat jajanan yang laris. Semuanya lengkap. Dan tentu kita bakal nge-rasa pede dalam bergaul kalo nggak ketinggalan informasi. Nggak jadi kambing congek pas sohib-sohibnya lagi ribut karena nggak nyangka Adit, akademia dari Surabaya bisa tereliminasi. Nggak cuma mupeng liat orang-orang asyik browsing and chatting . Apalagi sampe ke-bingungan pas ketiban rezeki dipinjemin Nokia Comunicator 9210i. Pokoknya, kita nggak bakal dapet julukan ‘pejabat gatek’ alias pemuda jaman batu yang gagap teknologi. Hahahaha


Ngomong-ngomong, ada juga lho temen kita yang nggak ngerasa asyik kalo ikut gaul. Iya, katanya doi takut kebawa-bawa ama pengaruh buruk pergaulan. Karena dalam pergaulan kan bukan cuma kecanggihan teknologi, tapi ada juga gaya hidup trendi yang diadopsi dari negerinya Britney Spears. Lebih banyak Having fun daripada manfaatin masa muda. Kalo nggak ngikut, dibilangnya nggak solider. Apalagi ama temen deket. Repot banget kalo kudu nolak ajakannya. Kalo diajak makan sih mending. Nah kalo diajak ngedugem, free sex, narkoba, atawa malak. Gaswat banget kan?


Nah, sobat muda muslim. Ternyata nggak semua remaja doyan gaul. Ada yang mikir mendingan tersisihkan dari pergaulan daripada jadi korban. Pendapat ini nggak salah, karena kita nggak bisa bo’ong kalo remaja yang jadi korban salah gaul makin banyak. Tapi ada juga yang bilang justru remaja kudu gaul biar potensi dirinya berkembang. Ini juga bener. Karena sebagai makhluk sosial, sulit buat kita hidup tanpa orang lain. Lantas gimana dong?


Berikut penuturan seorang psikolog, Bpk. Zainun Mu’tadin, SPsi., MSi tentang remaja . Beliau bilang, remaja sama seperti makhluk hidup lainnya bakal melewati masa penyesuaian diri. Guru biologi kita bilang kemampuan beradaptasi. Seperti yang dilalui burung penguin hingga kulitnya tahan dingin walau nggak pake sweater atau syal.


Gitu juga yang dialami jerapah hingga lehernya panjang biar bisa makan pucuk-pucuk daun. Dalam istilah psikologi, adaptasi itu disebut adjusment . Yaitu suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan tuntutan lingkungan (Davidoff, 1991). Ka-rena itu karakter remaja akan sangat dipenga-ruhi oleh faktor lingkungan tempat doi beradaptasi. Catet yoo!


Nah, ternyata dari sisi teori bergaul emang penting buat remaja. Karena lewat pergaulan, remaja akan dididik secara tidak langsung untuk menyesuaikan sisi pribadi maupun sosialnya dengan lingkungan sekitar. Supaya bisa tetep diakui keberadaannya. Tapi, seperti orang bilang, teori nggak selalu berbanding lurus ama praktiknya di dunia nyata. Makanya kita kudu intip fakta pergaulan remaja biar punya sikap terbaik dalam bergaul. Yuk? Ngikuuut...!


Gaul trend masa kini


Anak gaul nggak boleh amburadul. Prinsip ini yang sering dipegang teguh ama temen-temen remaja sekarang. Bener lho. Penampilan bagi remaja setara dengan harga diri. Buruk penampilan alamat terkucil dari pergaulan. Maka-nya tren penampilan remaja nggak ada matinya. Dari gaya rambut, pakaian, sampe aksesoris semuanya kudu trendi.


Gaya rambut lurus, hitam, bebas ketombe, bebas kutu, bebas pajak, atau bebas parkir jadi impian remaji (remaja putri). Meski rambutnya kriba alias kribo abis, bukan hambatan untuk ikut kontes rambut indah sunsilk . Kalo perlu di- rebonding abis-abisan pake mobil galendong yang biasa ngeratain jalan yang mau diaspal. Untuk urusan pakaian juga sama. Basi bin kuno kalo pakaiannya nggak irit bahan, full press body , atau nggak bikin adre-nalin cowok marathon. Malah nggak sedikit yang mengamalkan lirik lagunya Tata Young yang Sexy, Naughty, Bitchy . Walah!


Anak cowok juga nggak mau ketinggalan. Penampilannya pengen kayak Samuel Rizal atau Nicholas Saputra yang termasuk 11 cowok terseksi dari layar lebar versi tabloid tv remaja, Gaul . Punya kekuatan magnet untuk menarik cewek-cewek kece. Gimana nggak, badan macho, seksi, plus camera face . Tahu kan camera face ? Itu lho tipe wajah yang mirip kamera. Baik yang pake blitz maupun yang nggak. Cocok nongkrong di etalase studio foto bareng kodak (apa kodok neh?). Hehehe….


Gaya rambut yang trendi, pakaian yang seksi, atau badan yang macho belon pas tanpa dilengkapi aksesoris. Topi, kalung, anting, gelang, tas, arloji, ponsel, walkman, atau mp3 player. Semuanya kudu yang paling anyar bin canggih. Nggak boleh ketinggalan juga informasi terbaru seputar tokoh idola, musik, film, atau dunia olahraga. Setelah semua peralatan dan perbekalan seperti di atas udah lengkap, tiba saatnya bagi remaja en remaji untuk unjuk gigi tebar pesona. Di sekolah, kantin, perpustakaan, mal, ang-kot, mikrolet, atau metro mini. Pede banget boo!


Tapi ngomong-ngo-mong, buat apa rem-aja-remaji bela-belain penam-pilannya? Ih. Plis deh….jangan ‘ppo’ (pura-pura o’on) gitu dong. Ya tentu untuk menarik perha-tian lawan jenis dong. Soalnya obrolan seputar tips en trik jitu untuk curi pandang cari perhatian dari lawan jenis udah jadi menu wajib remaja di se-tiap kesempa-tan. Kan nggak enak kalo ngedugem, ngeliat konser AFI, nonton Di Sini Ada Setan the Movie, atau ngisi perut paket Hokka Irrito cuma sendiri. Asyiknya ditemenin demenan. Selain ada temen ngobrol, kali aja doi juga bisa nraktir. Matre banget neh! Bukan anak gaul namanya kalo nggak punya hasrat untuk berpacaran atau gaul bebas yang kian tanpa batas…. tas… tas…


Sobat muda muslim, nggak salah kan kalo kita bilang gaul remaja kian hari kian identik dengan gaya hidup hedonis. Gaya hidup yang mengejar kesenangan dunia semata. Materi, popularitas, dan penampilan jadi tujuan utama. Mereka cenderung untuk lebih memilih hidup enak, mewah, dan serba kecukupan tanpa harus bekerja keras. Buat yang banyak doku, bisa aja ngikutin gaya hidup ini. Tapi buat yang kere, bisa-bisa malah ikutan casting artis Patroli, Sergap, atau Tangkap .


Gaya hidup ini juga melahirkan remaja bermental instan. Nggak mau jalanin proses untuk dapetin keinginannya. Yang penting hasil. Kalo ada jalan tikus atau pintu belakang, ngapain juga susah-suah lewat depan yang dijaga satpam en kudu permisi segala. Makanya nggak heran kalo yang ikut audisi AFI dan Indonesian Idol bejibun banget demi status seorang bintang. Udah gitu, mereka juga nggak gitu peduli ama orang lain. Yang penting dirinya sukses dan segala kebutuhannya terpenuhi. EGP (Emang Gue Pikirin alias individualis) banget tuh!


Gaul syar’i tetep trendi


Sobat muda muslim, pasti kita nggak pengen dong dibilang gagap teknologi en minim informasi karena kita jarang gaul. Padahal kita yang punya peran mengembalikan kejayaan Islam dan kaum Muslimin. Bisa-bisa entar malah dianggap asing oleh umat kayak Tarzan tour ke Metropolitan. Memang, pergaulan remaja sekarang udah nggak islami. Tapi bukan berarti kita nggak gaul. Tetep aja ada kewajiban bagi kita untuk memperhatikan kondisi sodara-sodara kita. Lha, nanti kalo jadi korban per-gaulan yang salah gimana?


Nggak usah takut. Karena kita punya Islam. Ya, Islam yang kita pelajari, yakini, amalkan, dan dakwahkan bakal menjadi pelindung kita. Makanya kita sebagai remaja muslim boleh aja ikut trendi pake aksesories. Tapi dengan catatan, cuma terkait dengan hal-hal yang sifatnya mubah. Misalnya perkem-bangan teknologi. Kita nggak diharamkan punya ponsel terbaru yang bisa SMS, EMS, atau MMS plus dilengkapi kamera, radio, atau internet. Malah kita bisa kirim-kiriman sms tausyiah atau tahajjud call at the middle of the night kepada temen kita. Kan lumayan buat tabungan di akhirat.


Dalam berpenampilan pun Islam nggak mengharuskan hambanya untuk kumel, lecek bin dekil. Pokoknya bersih, suci dan diperoleh dari jalan halal. Itu sebabnya, remaja putri boleh pake kerudung bermotif bunga dihiasi renda yang bagian pinggirnya dineci. Tapi tetep kudu rapi sampai menutupi dada, nggak kayak kudung gaul yang amburadul.


Jangan lupakan juga jilbab (pakaian kurung yang longgar, tidak transparan, dan tidak ketat) yang melengkapi kerudung. Model atau desainnya silahkan bervariasi. Apa mau motif bunga, pohon, binatang, pemandangan, perumahan, atau perkotaan. Sesuai selera lah. Kainnya juga boleh ‘ngejreng’ dan warna-warni kayak pelangi. Asal jangan tengsin aja kalo ada yang ngatain badut. Sundut terus!


Untuk anak laki juga kemana-mana nggak harus pake peci, sarung, koko plus sendal biar mencirikan muslim. Soalnya setelan kayak gitu lebih mirip anak-anak yang mo ikutan sunatan massal. Sok aja mo pake celana panjang, Levis, Lea, Pantalon, yang dipadukan kemeja atau kaos Dagadu, C59, atau H&R . Asal jangan nggak pake baju or celana aja. Buat anak laki yang punya jenggot, boleh aja dipanjangin. Tapi nggak usah dikepang kayak si Erwin Dr PM. Apalagi sampe dipakein wig atau sanggul. Biar sama-sama rambut tetep aja nggak cocok. Huhuy!


Satu lagi yang kudu kita perhatiin. Kemampuan kita untuk berpenampilan trendi atau kecang-gihan teknologi yang dipunya jangan sampe bikin kita jadi sombong atau arogan. Ingat baik-baik lho sabda Rasulullah saw. seperti ini. BIar kita juga enak gitu lho. Biar ati-ati banget dalam setiap perbuatan kita: “Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan ada kesombongan (meski hanya) seberat dzarrah. Lalu seorang sahabat bertanya, “ada kalanya seseorang menyukai pakaian yang indah dan sepatu yang bagus.” Maka Rasulullah saw. menjawab “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.” ( HR Bukhari ).


Tetep kudu mabda’i


Bener sobat. Meskipun ikut trendi kita tetep kudu mabda’i alias ideologis. Artinya, ketika gaul tentang segala hal, jadikan sebagai informasi pelengkap untuk dianalisis dan kita sampaikan lagi ke orang lain dengan sudut pan-dang Islam. Jadi, kita dan temen-temen nggak mudah tergoda untuk ikutan tren yang nggak bener. Apalagi sampai terjerumus ke dalam pola hidup Barat yang sekuler. Nggak deh!


Makanya kita boleh nyari informasi seputar kehidupan selebritis, film baru yang lagi diputar di twenty one , atau musik yang lagi banyak digandrungi. Biar nggak ketinggalan informasi. Lebih bagus lagi kalo kita juga ‘ngeh’ ama tren gaya hidup remaja. Kan aneh kalo kita bilang pacaran itu haram. Sementara kita nggak punya wawasan tentang asal-muasal pacaran, akibat yang ditimbulkan, dan solusi yang ditawarkan. Pokoke kudu komplit biar nggak tulalit. Jangan sampe berbelit-belit!


Gimana caranya biar tetep mabda’i? Ngaji solusinya. Tentu yang dikaji adalah Islam sebagai sebuah ideologi. Islam sebagai sebuah aturan hidup yang bisa memfilter budaya sekular dan ide-ide rusak yang berasal dari Barat. Nggak cuma itu, sebagai sebuah ideologi, Islam juga mampu membimbing kita dalam memecahkan setiap masalah yang dihadapi.


Oya, harus dipahami bahwa dalam kondisi masyarakat yang amburadul seperti sekarang ini, kita harus selektif, Bro. Buat apa tampil “gaul” kalo harus mengorbankan akidah, iya nggak seh? Mendingan perdalam Islam supaya bisa selamat dunia dan akhirat. Pelajari Islam, pahami sebagai sebuah ideologi.


Perlu kamu catet baik-baik, bahwa Islam nggak pernah kok ‘alergi’ dengan yang namanya perkembangan jaman. Welcome aja. Nggak masalah kok. Tapi dengan catatan, perkem-bangan jaman itu wajib sesuai dengan ajaran Islam. Kalo nggak? Ke laut aja deh!


Intinya sih, kamu boleh aja gaul tren, tetep syar’i, juga mabdai. Oke? [hafidz]



PUDARNYA PESONA TUNAS BANGSA INI
11 Maret 2010





Saat ini, kenakalan remaja menjadi permasalahan utama dan sulit untuk diselesaikan. Lingkungan menjadi faktor utama pembentuk karakter remaja. Keadaaan psikologis remaja yang labil mempengaruhi sedikit banyak tingkah laku yang terjadi saat ini. Kriminalitas remaja meningkat tajam pada akhir tahun 2009. Perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, tawuran, aborsi, prostitusi anak di bawah umur , penjualan anak dan banyak lagi. Ketika moral sudah tidak lagi di pertanyakan, ketika etika dan kesopanan sudah mulai memudar. Lalu, siapakah pahlawan bangsa yng mau maju di baris terdepan untuk memperbaiki moral tunas bngsa kita? Bencana inilah yang harusnya lebih kita waspadai selain kedahsyatan bencana yang telah melanda negeri ini. Seburuk-buruknya bencana adalah ketika di negeri kita sudah tidak ada pemuda-pemuda yang memikirkan kelangsungan negeri, ketika tunas bangsa kita lebih memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri dibanding kesejahteraan umat.


Terkadang kita lupa akan hal itu. Banyak hal yang terjadi di negeri kita tercinta, banyak hal pula yang dilakukan tetapi kurang bisa menunjukkan hasil yang diharapkan. Kita disibukkan dengan hal-hal yang dianggap remeh. Kita terlalu diributkan dengan perbedaan yang seharusnya bisa diatasi dengan persaudaraan dan kepala dingin. Bahkan yang lebih unik lagi, penyelesaian masalah yang kita harapkan ternyata menjadi cabang permasalahan yang lain. Misalnya saat ini masalah pengidap penyakit HIV mulai menunjukkan peningkatan. Angka peningkatan HIV ini sebanding dengan angka free sex di usia remaja. Pemerintah sudah mulai berfikir bagaimana menekan angka ini, karena mau tidak mau peningkatan angka ini akan semakin memperburuk kondisi negara kita saat ini. Banyak hal sudah dilakukan pemerintah, termasuk kondomisasi. Penggalakkan kondom tidak akan menyelesaikan masalah, karena dengan adanya penggalakan ini berarti pemerintah melegalkan free sex. Masalah ini kita ibaratkan benang kusut, akan sulit kita temukan jalan keluarnya. Hal ini tidak memecahkan masalah, malah akan menambah masalah. Dengan adanya kondomisasi secara tidak langsung pemerintah melegalkan free sex asalkan memakai kondom. Padahal kondom sama sekali bukan solusi efektif untuk menurunkan angka HIV di Indonesia.


Berikut ini adalah fakta tentang Kondom dan HIV :




  1. Latex kondom dapat memiliki lubang alami yang sekurang-kurangnya 50 kali lebih besar dan hingga 500 kali lebih besar daripada virus AIDS.






  1. Dalam cairan semen, HIV bebas berada dalam cairan semen bukan dalam sel atau dalam sel yang berhubungan




  2. langsung kontak dengan air mani adalah sarana utama penularan HIV seksual. virus gratis ada di air mani, pada konsentrasi setinggi 108 partikel virus per ml. HIV juga ditemukan dalam sperma-bebas cairan pra-ejakulasi diperoleh dari laki-laki HIV-positif. “




  3. Lebih dari satu juta partikel berukuran HIV, melewati satu sentimeter persegi karet dalam waktu 30 menit. Ini adalah tingkat lebih dari 33.000 partikel / menit, hampir 560/second. Tidak diketahui betapa sedikit virus HIV diperlukan untuk infeksi terjadi.




  4. Tingkat sel-bebas HIV dalam air mani dapat bervariasi. Jumlah sel-bebas HIV berkisar dari beberapa ratus hingga satu juta per ml air mani yang terinfeksi.




  5. Setiap tindakan seks menghasilkan sekitar 3,3 ml semen.




  6. SIV, versi monyet HIV, adalah sama dengan HIV dan model SIV diakui oleh UNAIDS.




  7. Ketika SIV ditransmisikan ke vagina, sel-bebas SIV adalah 10.000 kali lebih efisien dalam menginfeksi melalui vagina dari SIV terkait sel.




  8. Ada 9 viral load yang tinggi pada semua tahap penyakit HIV dan viral load meningkat 7 kali lipat selama perkembangan penyakit.




  9. tes HIV tidak dapat mendeteksi tingkat yang sangat rendah HIV. Bahkan jika gagal tes untuk mendeteksi HIV, tingkat terdeteksi HIV tidak setara untuk menjadi terbebas dari penyakit HIV. Pasien masih dapat menular dan risiko penularan masih bisa.”




  10. Beberapa orang menjadi terinfeksi setelah satu atau hanya beberapa kontak seksual.nai kondom dan Virus HIV:




(http://eemoo.wordpress.com/2009/11/14/11-fakta-kondom-dan-aids/, diakses tanggal 11 maret 2010)


Kondomisasi yang digalakkan pemerintah juga bukan solusi yang tepat untuk mengurangi penyebaran virus HIV. Salah satu pencegahan yang tepat adalah berhenti melakukan seks bebas. Pembekalan akhlak sejak dini merupakan langkah preventif yang tepat. Orang tua, terutama ibu merupakan sekolah utama bagi anak-anak. Nilai agama dan moral menjadai perbaikan yang tepat untuk mengembalikan pesona remaja saat ini. Cerminan seseorang yang beragama bukan seperti ini. Ajaran agama pasti akan mengatur seseorang tingkah laku penganutnya. Kembali ke nilai-nilai agam merupakan solusi yang tepat dalam permasalahan ini. Ketakutan, ketundukan dan kecintaan seorang hamba pada khaliq (red: sang pencipta) nya akan cenderung menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat dan tidak dibenarkan agama. Ada hadist mengatakan “perempuan adalah tiang negara. Jika baik perempuan itu, maka baiklah negara itu. Dan jika rusak perempuan itu, maka rusak pula negara itu.” Hal ini menunjukkan peran penting seorang ibu dalam menanamkan nilai moral anak-anaknya.


Meredupnya cahaya tunas bangsa saat ini, tidak terlepas tanggung jawab orang tua saja. Lingkungan, sekolah dan pemerintah harus sama-sama berbenah diri dan bergerak aktif dalam mengembalikan kegemilangan pemuda kita. Tidak bisa kita lepas tangan dan menyerahkan semuanya kepada pemerintah. Pemuda adalah agent of change. Perubahan bangsa harus segera terjadi. Pembenahan sana-sini tidak akan ada hasilnya jika tanpa dibarengi oleh kerja sama setiap pihak yang terkait tidak akan terwujud kesejahteraan umat. Mari kita hidupkan kembali pesona tunas bangsa kita! Pemuda harus berada di garis paling depan dalam membela agama allah. Wa’allahu a’alm bish showab..


 


 


CONFUSE!!!!
23 Februari 2010











Ekonomi Negara ini sudah morat-marit gak karuan. Banyak istilah yang dipakai untuk menggambarkan kebobrokan negeri ini. Tikus mati di Lumbung Padi, jadi kacung di Negara sendiri masih banyak istilah yang sebenarnya menggelitik kita. Kita hidup di negeri sendiri atau di negeri orang se?? punya sawah sendiri, malah ekspor luar negeri. Punya banyak tenaga ahli buat mengelola tambang, malah pesen tenaga ‘bule’ yang notabene hanya menggerogoti hasil bumi kita. Yang malah melobangi kantung kita, dan yang lebih ‘gila’ nya lagi kita malah bangga dengan kebudayaan ‘bule’ yang membobroki Negara kita yang sudah bobrok. Dan terlebih bobrok akal dan moral. Hehehe… diem-diem mereka jadi benalu di negeri kita. Masih gak sadar juga?


            Sistem perekonomian kita tak ubahnya dengan system perekonomian yang mementingkan kantung perekonomian di salah satu golongan saja. ‘yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin’. Yaahh… apapun makanannya minumnya t** … (tiiiiiit) ooppss… nyaris ja… ngiklan lagi.. hahaha… maksudnya, siapapun orangnya (red : waras) pasti kalau ditawarkan tentang system perekonomian, pastilah ekonomi yang benar dan berkeadilan dalam bentuk kepemilikan, hokum-hukum pemerataan dan hukum-hukum anggaran belanja. Namun demikian, hukum-hukum yang menjadi solusi atas berbagai problem ekonomi tersebut harus didukung dengan metode pelaksanaan, metode penegakan, dan metode sosialisasi yang baik, efektif dan efisien.


           


Realita yang ada


            Hukum Negara kita hanya jadi obat tidur bagi segolongan orang yang bodoh dan gampang dibodohi. Membiarkan kita terus bermimpi tanpa tahu kapan akan bangun. Susah memang menyadarkan orang yang SAKIT. Sakit akalnya, sakit jiwanya dan sakit hatinya (mending.. daripada sakit gigi… nyut.. nyut… J). Gimana gak, kalo’ akal yang waras pastinya akan menolak akonomi yang mengeksploitasi rakyat, memanipulasi, menindas dengan deskriminasi, dan penjajahan yang di-design oleh para penjajah dan antek-anteknya. System perekonomian kapitalis hanya membuat manusia bermodal menjadi semakin bermodal dan manusia yang berandal  semakin berandal dengan kebusukan pemikiran yang dibawanya. Semakin besar jurang pemisah yang membatasi antara si miskin dan si kaya. Dan lebih parah nya lagi, membuat si kaya bermental miskin. Terus merasa kekurangan dengan apa yang dicapainya dan terus mencari kekayaan sebanyak-banyaknya.


Tak jauh beda dengan kapitalis, system perekonomian sosialis juga bukan sistem yang tepat digunakan. PRINSIP Sama rata sama rasa yang diusung oleh sistem ini tidak memberikan solusi seperti yang kita harapkan. Jargon ini kelihatnnya peduli kepada masyarakat, tapi sayangnya system ini membatasi kepemilikan tiap individu. Negara mengambil alih semua kepemilikan dengan tujuan meratakan perekenomian. Tapi system ini sudah ‘hancur’ lebih dulu daripada system kapitalis. Sistem kapitalis menguasai dunia, bahkan menyetir hamper seluruh Negara-negara di dunia.


Realita-realita tentang perekonomian di Indonesia



  1. Rekayasa BLBI tahun 1998 yang merampok kekayaan rakyat triliunan rupiah

  2. BDNI sebesar 24,47 triliun yaitu 28,84% dengan pemilik Syamsul Nursalim

  3. BCA sebesar 15,82 triliun yaitu 18,64% dengan pemilik Soedono Salim

  4. bank danamon sebesar 13,8 triliun yaitu 16,87 % dengan pemilik Usman Admadjaya

  5. Bank Umum Nasional sebesar 5,09 triliun yaitu 6,0% dengan pemilik Bob Hasan.

  6. Bank Indonesia (BIRA) sebesar 3,66 triliun yaitu dengan pemilik Atang Latief


(sumber: Laporan Audit BPK RI No.06/01/Auditama II/AI/VII/2000)


NB : Maaf.. sengaja ditebelin.. biar keleatan boroknya!!! Hehehe…. J


      Islam sudah menjanjikan satu system yang tak mungkin terkalahkan oleh apapun. Sistem yang menganut pada aturannya Sang Pencipta (Red: Allah azza wa jalla). Azas perekonomian yang dibangun atas Aqidah, syariat,peradilan, sejarah dan bahasa; yaitu asas aqidah dan hukum , bukan dengan peraturan yang statusnya di bawah aqidah dan hukum. Menurut pandangan mabda’ islam (ideology islam), pemilikan ada tiga macam, yakni pemilikan individu, pemilikan umum dan pemilikan Negara. Pemilikan adalah hak hukum untuk memanfaatkan harta. Hak tersebut diperoleh dari penciptaan manusia, alam dan kehidupan dengan izin NYA melalui al Qur’an dan Sunnah yang disahkan keduanya Qiyas dan Ijma’ sahabat. Kehidupan rakyat tidak boleh terjudikan, mereka harus dijamin oleh Negara. Islam telah memberikan solusi yang nyata. Baitul maal akan berputar pada kemakmuran rakyat, dengan system zakat, infaq, waqaf dan sebagainya. Islam is The real solution!!


Begitu sempurnanya solusi hukum dalam islam. Hukum manusia yang berasakan kebebasan dan keadilan sekalipun tak akan bisa menandingi hukum allah ini. Hukum manakah yang sekiranya pantas untuk dijadikan panutan kita sebagai umat islam? Kalau bukan Hukum Islam siapa lagi??? Tidak dizinkan seorang muslim mengambil hukum selain hukumnya allah. “Dan mereka berkata kami beriman dengan sebagian dan kami kafir terhadap sebagian dan mereka bermaksud mengambil jalan antara yang demikian itu, mereka itulah orang-orang kafir yang sebenarnya.”(QS. An Nisa’: 150-151).


      Dengan demikian, memang jelas bahwa islam bukan hanya sekedar agama ritual belaka, bukan pula sekedar ide teologi atau kepasturan. Akan tetapi, islam adalah suatu metode kehidupan tertentu, dimana setiap muslim dari seluruh kaum muslim wajib menjalani kehidupannya sesuai metode ini. So, choose your way of life!!! Islam or not???? Wa’allahu a’alam bis showab.


 


NB: judul artikel gak usah di-reken, soalnya yang bkin artikel bingung jadi make judul itu.. hahaha… J


 


 

AGAR DOMBA TAK DITERKAM SERIGALA
23 Februari 2010











Perumpamaan yang pas tentang pentingnya berjam’ah pernah idsampaikan Rasulullah saw. Dalam hadist yang diriwayatkan Imam ahmad dan Imam Tirmidzi dari Muadz bin Jabal, beliau bersabda,”Sesungguhnya setan itu serigala bagi manusia, seperti serigala bgi kambing, ia akan menerkam kambing yang keluar  dan menyendiri dari kawanannya. Karena itu, jauhilah perpecahan, dan hendaklah kamu bersama jam’ah dan umat umumnya.”


 


Jama’ah yang disebutkan dalam hadist ini seperti diterangkan oleh Imam Syathibi, adalah umat islam(jama’atul muslimin)  yang menyepakati seorang khalifah melalui perangkat Syura’. Pendapat ini juga didukung oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani. Sehingga, jama’ah muslimin itu memiliki tiga komponen: khalifah, syura’ dan umat islam. Khalifah adalah pemimpin tertinggi, syura’ adalah mekanisme pengangkatan khalifah tersebut (wakil-wakil yang ikut syuro’ disebut ahlul halli wal’aqdi), dan umat islam sebagai basis demografinya. Itulah jama’atul muslimin, sistem dan tatanan yang menata kehidupan umat dan kemakmuran bumi dibawah supremasi islam yang penuh rahmat.


 


Kenapa mesti berjama’ah?


Setiap muslim semstinya hidup berjam’ah. Karena islam yang harus ditegakkannnya bersifat menyeluruh(syamil), sempurna (kamil), saling menyempurnakan (mutakamil). Sementara umat islam sebagai manusia memiliki kapasitas dan kemampuan yang sektoral dan sangat terbatas. Maka, untuk mengupayakan agar islam yang sempurna tetap bisa teraplikasi secara sempurna, tak dipungkiri lagi bahwa manusia perlu saling menambal keterbatasannya itu. Alasan ini bisa disebut sangat personal. Artinya, umat islam itu merupakan “person-person” penuh kekurangan yang membutuhkan jama’ah.


Selain alasan personal, islam sendiri sebagai ideologi dan peraturan hidup sangat membutuhkan aktualisasi. Maksudnya adalah membangun pradaban islam secara struktural. Dr. salim Segaf Al-Jufri, dosen Pasca IAIN Jakarta, pernah menyatakan,”Tidak ada peradaban yang berkembang tanpa dukungan struktural yang kokoh. Setiap peradaban hampir selalu melalui tiga fase besar untuk berkembang. Pertama, fase perumusan ideologi dan pemikiran. Kedua, fase strukturalisasi dan ketiga, fase perluasan (ekspansi). Ideologi-ideologi besar semuanya mengalami tiga fase tersebut. Lihatlah komunisme, kepitalisme barat, dan yang tak asing lagi, Zionisme Internasional.


Dunia islam saat ini memang tidak gemilang dan menerobos kemodernan. Hal ini dikarenakan sifat umat islam sendiri yang justru memanfaatkan kemodernan dunia dan memaknai teknikalisme.


Lalu, jama’atun minal Muslimin atau Tajammu’at Al-Islamiyah yang bagaimana yang sebaiknya kita pilih? Petama, tentu yang visi dan misnya jelas, utuh dan tidak parsial. Jama’ah yang tujuan akhirnya hanya mencari ridlo Allah. Sementara tujuan jangkaka panjangnya mengembalikan supremasi islam dalam segala bidang. Dari khilafah hingga ibadah, dari Undang-undang hingga tatanan sosial. Karena islam adalah aqidah dan ibadah, pedang dan negara, organisasi dan masyarakat, jihad dan perdamaian, dunia dan akhirat J


Kedua, jama’ah yang manhaj nubuwah. Menjalankan methode rasulullah dalam segala aspek kehidupan. Merekalahjama’ah yang mengacu pada sirah Rasul dan para sahabatnya.


Ketiga, Jama’ah yang mampu menyiasati zaman karena islam adalah agam yang tidak lekang oleh tempat dan waktu. Sehingga bukan islam yang mengikuti zaman, tetapi zamanlah yang harus mengikuti islam.


Berjama’ah tetapi tidak shohabiyah. Mereka jama’ah yang tidak menganggap jama’ah nyalah yang paling benar. Kebenaran hanya milik allah swt. Umat islam terpecah-pecah menjadi beberapa jama’ah sudah merupakan sunnatullah. Rasulullah pernah bersabda bahwa, Kelak umat islam akan terpecah-pecah menjadi 73 golongan dan diantaranya yang selamat adalah ahussunnah wal jama’ah. Inilah yang mendasari keurginan berjama’ah. Tujuan besar kita dalam berjama’ah adalah menegakkan kembali islam. Manusia hanya mengusahakan, allah lah penentu segalanya. Dengan hidup berjama’ah kita memiliki komunitas untuk saling mengingatkan satu sama lain, untuk ladang menyampaikan kebenaran, walau sebenarnya kita juga bisa menyampaikan (red:dakwah) dimanapun kita berada.


Kalau pun tak dapat mengejar tujuan-tujun besar seperti itu, dengan hidup berjama’ah,setidaknya kita tidak harus mati diterkam’serigala’ dalam kesendirian.


Waallahu a’lam bishawab


Sumber : majalah Tarbawi